Laman

Kamis, 04 September 2014

***~~ KENALILAH ISTRIMU KERNA DENGAN ITU KAMU TAU BAGAIMANA CARA MEMBAHAGIAKANNYA~~***

Pemimpin yang baik dalam rumah tangga, akan mengenali dengan baik setiap anggota keluarga yang dipimpinnya, istri dan anak-anaknya, jika dia memiliki lebih dari satu istri, maka dia juga mengenali dengan baik sifat masing-masing istrinya, sehingga dia bisa bermuamalah, berinteraksi dengan istrinya dengan sikap yang membuat si istri merasa senang, dan tenang disamping suaminya. Dunia sang istri akan terasa indah berada di samping suaminya, dan hal ini membantunya dalam ketaatan serta ketaqwaan kepada Allah Ta'ala, dan kemudian ketaatan kepada suaminya.... Jika engkau mendapati istrimu banyak membantah dan melawan terus... bisa jadi dia tidak merasa senang dan tenang disisimu, karena jeleknya kepemimpinanmu...

Maka mengenali dan memahami sifat serta karakter istriadalah bagian dari membentuk keluarga yang tenang... yang sakinah, yang akan membuat suami juga merasa betah tinggal di samping istrinya, masing-masing istri memiliki keinginan yang berbeda-beda dalam mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suami, dan sudah seharusnya sang suami mengerti watakmasing-masing istri dengan melihat dari latar belakang keluarganya, usianya, asal sukunya, bagaimana SIFAT BAPAKNYA (karena dengan mengenali bapak mertua,kita bisa mengetahui bagaimana si istri dididik pada masa kecilnya), bagaimana sifat ibunya, dan hal-hal lain yang bisa membuat kita mengerti watak sang istri... Jangan kalian abaikan masalah ini demi ketenangan dan keindahan rumah tangga kalian...

‘Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan apa yang ia alami dengan suami dan kekasihnya yang mulia. Dalam sebuah safar (perjalanan), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para shahabatnya:“Majulah kalian (jalan duluan)”. Maka mereka pun berjalan mendahului beliau. Lalu beliau berkata kepada ‘Aisyah (yang ketika itu masih belia dan langsing): “Ayo, kita berlomba lari”. Kata Aisyah: “Akupun berlomba bersama beliau dan akhirnya dapat mendahului beliau”. Waktupun berlalu. Ketika Aisyah telah gemuk, Rasulullah kembali mengajaknya berlomba dalam satu safar yang beliau lakukan bersama ‘Aisyah. Beliau bersabda kepada para shahabatnya: “Majulah kalian”. Maka mereka pun mendahului beliau. Lalu beliau berkata kepadaku: “Ayo, kita berlomba lari”. Kata ‘Aisyah: “Aku berusaha mendahului beliau namun beliau dapat mengalahkanku”. Mendapatkan hal itu, beliau pun tertawa seraya berkata:“Ini sebagai balasan lomba yang lalu (kedudukannya seri, red).” (HR. Abu Dawud no. 2214. Asy-Syaikh Muqbil rohimahullooh menshahihkan sanad hadits ini dalam takhrij beliau terhadap Tafsir Ibnu Katsir, 2/286).

Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengenali watak dan karakter masing-masing istri beliau, sehingga beliau shallallahu'alaihi wa sallam mengajak ‘Aisyah radhiyallahu 'anha untuk berlomba lari,namun beliau tidak pernah mengajak istri-istri beliau yang lainnya untuk berlomba lari kecuali ‘Aisyah radhiyallahu 'anha. Karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengetahui bahwa usia ‘Aisyah radhiyallahu 'anha saat itu masih senang dengan permainan, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberikan dunia rumah tangga yang disenangi oleh ‘Aisyah radhiyallahu 'anha, dengan mengajaknya bermain-main, dan membuat sang istri merasa tetang serta senang disamping suaminya. Dan banyak juga hadits lain yang mengisahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kesempatan bagi ‘Aisyah radhiyallahu 'anha untuk bermain-main melewati usia mudanya.

Demikianlah dunia rumah tangga ‘Aisyah Sarat canda dan permainan dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Namun hendaknya diperhatikan pandangan syariat tentang jenis-jenis permainanyang boleh digunakan oleh anak. ‘Aisyah  juga menceritakan:

“Dulu aku biasa bermain boneka-boneka perempuan di sisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan aku memiliki beberapa teman yang biasa bermain denganku. Apabila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang, mereka bersembunyi dari beliau. Kemudian beliau menggiring mereka kembali padaku, lalu mereka bermain lagi bersamaku.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 6130 dan Muslim no. 2440).

Maka wahai para suami, kenalilah dengan baik siapa istri kalian, kalian telah mengambilnya dari buaian kasih sayang orang tuanya, dan menjadikannya dalam tawanan rumah kalian, maka kenalilah jalan untuk membuatnya bahagia dan merasa tenang menjadi istrimu, kenalilah cara-cara yang bisa membuatnya menampilkan senyum terindahnya, derai tawanya yang merdu... yang pasti engkau akan merindukannya saat jauh dari sisinya. Jadilah engkau pemimpin yang dirindukan... bukan pemimpin yang ditakuti, dan dapatilah rumah tanggamu menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah Insyaa Allah bi'iznillah Aamiin..

Rabu, 03 September 2014

***~~~~~~~~~~~~~~ NASEHAT SEORANG KAKEK ~~~~~~~~~~~~~~***

Seorang Muslim tua Amerika bertahan hidup di suatu perkebunan di suatu pegunungan sebelah timur Negara bagian Kentucky dengan cucu lelakinya yg masih muda.

Setiap pagi Kakek bangun lebih awal dan membaca Quran di meja makan di dapurnya. Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.

Suatu hari sang cucu nya bertanya, ” Kakek! Aku mencoba untuk membaca Qur’An seperti yang kamu lakukan tetapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupak an secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Qur’An? Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan batubara di dasar keranjang, memutar sambil melobangi keranjang nya ia menjawab, ” Bawa keranjang batubara ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.”Maka sang cucu melakukan seperti yang diperintahkan kakek, tetapi semua air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu harus melakukukannya lebih cepat lagi,” Maka ia menyuruh cucunya kembali ke sungai dengan keranjang tsb untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap, lagi2 keranjangnya kosong sebelum ia tiba di depan rumah. Dengan terengah-engah, ia berkata kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.Sang kakek berkata, ” Aku tidak mau ember itu; aku hanya mau keranjang batubara itu. Ayolah, usaha kamu kurang cukup,” maka sang kakek pergi ke luar pintu untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu.

Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, “Lihat Kek, percuma!”

“Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.

Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.”

Sang cucu menurut, melihat ke dalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam.

“Cucuku,” ujar si kakek kemudian, “hal itulah yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an. Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, tetapi ketika kamu membaca nya lagi, kamu akan berubah, luar dalam. Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”


Barakallah fikum..

Senin, 01 September 2014

*~~~~~~~ SANG SUAMI BERTANYA KEPADA ISTRINYA ~~~~~~~*

Sudah shalat ashar ?"..."belum "jawab istrinya pendek.
Suami bertanya lagi : "kok belum shalat, mengapa ? "...
Ketus istrinya menjawab : "aku baru saja pulang, capek sekali dan aku ketiduran sebentar tadi "....
Suaminya menimpali : "baiklah....bangun dan shalatlah ashar dan maghrib sekaligus, sebentar lagi sudah mau masuk waktu isya "....

Pada keesokan harinya suami untuk tugas ke luar kota...seperti biasa seharusnya si suami menelpon istrinya bila telah tiba dengan selamat ditempat kerjanya. Si istri menunggu berjam-jam telepon dari suaminya namun si suami tak juga menghubunginya....pemberitahuan dengan SMS singkat pun tidak ada...si istri pun mulai cemas, ini bukan kebiasaan suaminya...ia berpraduga bermacam-macam dan amat khawatir dengan keselamatan sang suami....berkali-kali ia mencoba menghubungi HP suaminya....terhubung tapi tidak diangkat.

Setelah beberapa jam terakhir si suami mengangkat HP nya....terbata-bata si istri bertanya : "suamiku apakah engkau telah tiba dengan selamat ? "...."Ya, Alhamdulillah "jawab suami pendek...."kapan sampainya ?" Si istri bertanya lagi....cuek si suami menjawab ; "saya sampai kira-kira 4 jam yang lalu "....dengan nada marah si istri berkata lagi : "4jam yang lalu dan tidak menghubungi aku ???
"....masih dengan nada malas si suami menjawab : "aku merasa capek sekali dan aku ketiduran sebentar "....si istri menimpali : "berapa menit sih kalau harus menelpon ku ???
Cuma sebentar masa ngak bisa???apa gak kedengaran bunyi HP mu waktu tadi aku menghubungi bekali-kali???"..." ya aku dengar "jawab suami ....dengan suara sedih si istri berkata : "kok gitu sih..!!apa sudah ngak sayang padaku lagi??? "....si suami menimpali : "aku amat sayang padamu ....tapi kemarin mengapa engkau tidak menyahuti seruan adzan ashar dan bergegas shalat, bukankah shalat itu hanya sebentar....
Bagaimana nanti kalau aku ditanya Allah SWT tentang perbuatan mu itu....apakah engkau sudah tidak sayang padaku ? "....di ujung HP sambil terisak si istri berkata : "engaku benar suamiku....aku mohon maaf...aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi "....
Sejak saat itu si istri tidak pernah lagi mengakhirkan shalat bila telah tiba waktunya....

Sungguh....orang yang benar mencintaimu adalah orang mendorongmu ke depan untuk berjalan bersama di jalan-Nya  ....ia akan terus menyokong mu agar engkau tidak berpaling....atau pun mundur ke belakang !!!
Wallahu a'lam semoga bermamfaat dn bisa di jadikan renungan bagi saya pribadi dan para pembaca Aamiin..

COPASSSS...!!

Rabu, 27 Agustus 2014

''~~~~~~~~~~~~~~~~ WAKTU TERUS BERJALAN~~~~~~~~~~~~~~~~~~''


Berapa banyak orang, berusaha dengan kerasnya untuk mendapatkan dunia ini. Untuk Mengumpulkan, Untuk menumpuk (kekayaan) di dunia ini.. Hari demi hari, malam demi malam, minggu demi minggu, tahun demi tahun.. Seluruh kehidupan mereka adalah untuk menumpuk dan mengumpulkan (harta).. Kemudian, setelah mereka berhasil mengumpulkan apa yang ingin mereka kumpulkan.. KEMATIAN menjumpai mereka, dan mereka tidak menikmati apa-apa.. Banyak dari mereka yang melihat permulaan pagi hari, akan tetapi tidak dapat melihat petang harinya.. 

Banyak dari mereka yang berharap berjumpa pagi, tetapi mereka tidak lagi hidup untuk melihatnnya.. Jika saja Anda tau kapan waktu (ajal) Anda yang telah Ditetapkan.. anda akan (DEMI ALLAH) membenci hal-hal yang bersifat duniawi. Saudaraku.....

Apakah kita ini? Siapakah kita ini?

Kita bukanlah siapa-siapa melainkan hanya kumpulan daging dan tulang.. kita bukanlah siapa-siapa melainkan hamba. Budak dari Tuhan yang Maha Besar, Allah Subhanhu Wa Ta'ala..

Satu-satunya yang telah memberikan kita kehidupan ini, dalam rangka memanfaatkan kehidupan ini. Bukan dengan cara yang saya atau anda inginkan, bukan!!Kita ini hamba dari satu-satunya yang telah memberi kita kemampuan ini.. yang telah meminjamkan tubuh yang sedang kita punya, dalam rangka memanfaatkannya.. dengan cara dan hanya cara yang akan Disenangi oleh-Nya..

Suatu hari akan datang, ketika tulang anda akan terpisah dari daging.. Tak akan ada lagi daging padanya. Dan tubuh hidup yang anda punya hari ini akan menjadi tulang belulang.. dibawah tumpukan kotoran (tanah). Ini adalah KENYATAAN Anda, Orang cerdas dalam hal ini, merenungkan.. mempertimbangkan kenyataannya.. Dia tahu, bahwa waktunya akan berlalu.. setiap detik yang berlalu, telah pergi.. tetapi itu akan tercatat dalam catatan amalan Anda.

Meski baik atau buruk bagi Anda.. Waktu kita terus berlalu..Sama seperti es batu yang meleleh.. Tetapi orang cerdas paham, dan meyakini, bahwa kesuksesan sejati hanyalah menyelamatkan dirinya dengan melakukan perbuatan yang akan menjauhkannya..Dari Siksa Keras dari Api Neraka.. dan ia berusaha menggapai Kebahagiaan Abadi di Surga..Bukankah ini yang kita Mau? Bukankah ini yang kita kerja keraskan?

Hanya Allah yang tau kapan Ajal kita menjemput, Saudaraku tersayang..Hanya Allah yang Maha Besar yang tau kapan waktu kita akan datang..

"~SETIAP~"

"~YANG BERNYAWA~"

"~PASTI~"

"~AKAN MERASAKAN~"

"~KEMATIAN~"

Sabtu, 23 Agustus 2014

~~~~~RENUNGAN ~~~~~


“Jadikan istrimu sebagaimana ratu dalam rumah tanggamu, maka ia akan menjadikan dirinya hamba sahaya di hadapanmu!”Ketika mendengar perkataan sang ustadz mungkin akan timbul banyak gambaran atau bisa jadi anda akan terhenyak dengan nasehat ini,atau bisa jadi anda sketika terpana dengan kata-kata itu,dalam penglamn hidup anda selama berumah tangga sudah pasti berbagi macam maslah dan ujian atau coba'an yang pasti anda akn jumpai selama mengharungi keihudpan dengan saang istri anda,entah berbagai ragam jenis ujian dan coba'an yang pasti andalah yang bner-bener mngetahui hal tersebut,namun tidak sedikit di kalangan kita anda atau segelintir orang yang menginginkan yang namanya istri sholehah,meski harus ditempuh dalam sebuah proses pendidikan yang panjang, nasihat yang berkelanjutan seorang suami kepada istri, setiap harinya, setiap malamnya, dan selalu berusaha memuliakan istri sebaik-baiknya dalam rumah tangga anda,

Namun perkataan “Jadikan istrimu sebagaimana ratu dalam rumah tanggamu, maka ia akan menjadikan dirinya hamba sahaya di hadapanmu!”bukan bermaksud menjadikan istri setara dengan budak di hadapan anda para suami. Namun, ketika kita mendidik istri dengan kelemah lembutan dan nasihat yang baik, berakhlak mulia kepada mereka, berusaha selalu tampil lembut kepada mereka, berusaha membahagiakan istri anda, melayani kebutuhannya dengan ikhlas, tanpa anda mengharapkan balasan darinya... sabar akan kesalahan yang dilakukannya jika memang kesalahan itu masih bisa diperbaiki. Atau anda benar-benar menjadikannya benar-benar merasa bahwa ia adalah seorang ratu yang senantiasa dilayani dan diperlakukan dengan hormat dalam rumah tangganya... maka istri anda akan menyadarinya sepenuh hatinya... akan kebaikan dan keikhlasan suaminya... dan sungguh ia akan menjadikan dirinya, lebih merendah dari diri anda yang melayani dirinya, melayani keperluannya... Dia istrimu akan ridho akan setiap nasihat anda dalam kebaikan... ridho akan setiap keputusan Allah subhanahu wa Ta'ala,,''wallahu a'lam..''

~~~ SANGAT PERLU DI TERAPKAN~~~


Seorang suami, meski ia menafkahi istrinya, meski ia memberikan perlindungan dan rasa aman serta menjaga kehormatan istrinya, meski ia berkuasa dan memiliki kemampuan untuk memerinta istrinya, BUKAN BERARTI kemudian ia bisa dengan mudah menyuruh istrinya untuk melakukan ini dan itu untuk melayani keperluan suaminya, sedang sang suami masih bisa melakukannya sendiri, masih memiliki waktu untuk membantu sang istri dengan tidak membebani istri pada hal-hal yang bisa dilakukannya sendiri.
Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meski beliau adalah pemimpin kaum muslimin, memiliki kekuasaan atas banyak manusia, dihormati dan dicintai, namun beliau adalah seorang suami yang sangat sayang kepada para istrinya, tidak membebani istrinya, beliau melakukan pekerjaan rumah yang beliau mampu, dan selain itu tetap membantu istrinya... tidak berkurang kehormatan suami hanya karena membantu istri memasak, atau menyapu lantai, menyikat kamar mandi, memotong sayuran atau menambal celana yang robek...
Kehidupan beliau (shallallahu 'alaihi wa sallam) di rumahnya di tengah-tengah isteri-isterinya, maka beliau adalah teladan tertinggi dalam hal kasih sayang, ketenteraman, ketenangan, tidak membebani, memberikan nafkah, dan menjauhi kata-kata yang pahit serta menyakitkan.[‘Audatul Hijaab (II/105)]
Dari ‘Urwah, ia menuturkan: “Seseorang bertanya kepada 'Aisyah, ‘Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sesuatu di rumahnya?’ Ia menjawab, ‘Ya, beliau menambal sandalnya, menjahit bajunya, dan bekerja di rumahnya sebagaimana salah seorang dari kalian berbuat di rumahnya.’”[HR. Al-Bukhari (no. 676) kitab al-Adab, at-Tirmidzi (no. 2489) kitab Shifatul Qiyaamah war Raqaa-iq wal Wara’, Ahmad (no. 24228)]
Istrimu... adalah manusia yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik darimu sebagai suami, setiap hari engkau bergaul dengannya, setiap hari engkau berbincang dan dan menatapnya... hingga kalian mungkin mengenal akhlak satu sama lain... tidak tersembunyi lagi akhlak dan tabiat serta watak kalian satu sama lain... Jika engkau wahai suami, saat ini masih jauh dari sikap senang membantu istrimu dalam pekerjaan rumah tangganya... maka tidak ada kata terlambat untuk mulai menunjukkan bahwa engkau adalah suami yang diimpikannya selama ini, suami impian setiap wanita... suami yang meneladani Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam berakhlak kepada istrinya...
Cobalah, jika selama ini engkau enggan membantunya memasak, pada saat ada waktu luang, tawarkan jasamu untuk membantunya mengiris bawang... rasakanlah air mata kepedihan itu saat engkau melakukannya, jika selama ini selalu meminta istri untuk menjahit celana yang robek... cobalah sekali ini untuk menambalnya sendiri dengan benang dan jarum jahit... sesekali tangan pedih tercucuk jarum tidaklah mengapa... itu adalah tanda cintamu pada istrimu, dengan demikian, semoga rumah tangga kalian semakin indah dan mempesona
Wallahu a'lam...

Senin, 14 Juli 2014

~~~ MAAFKAN DIA~~~




Tak ada gading yang tak retak
Istrimu bukan bidadari dan kau pun bukan malaikat.
Engkau memiliki kekurangan…
Sebagaimana istrimu memiliki kekurangan
Maka maklumilah dia..
Kalau ada perilaku yang tidak disukai dari seorang istri, yang namanya ia manusia, maka ingatlah..
Dia memiliki kebaikan-kebaikan..
Yang membuat suaminya sejuk hatinya..
Tentram berada di rumahnya..
Lihatlah kepada isinya (kebaikannya)..
Jangan melihat pada kesalahannya saja.
Dalam hadits riwayat Bukhari Rasulullaah mengatakan,

"Ditampakkan kepadaku neraka, ternyata kebanyakan penghuni neraka adalah wanita.. "
Apakah karena mereka kufur kepada Allaah? Tidak !
Tapi karena kebanyakan wanita itu mengingkari atau tidak bersyukur kepada suaminya..
Maafkan bila aku terus mencintaimu
Tapi bisakah kau menghentikan badai?
Aku tak bisa
Aku bahkan tak kuasa membendung gemuruh di hatiku sendiri
Aku ingin bersamamu selamanya….

Sabtu, 06 April 2013

Pahala Melimpah Bagi Muslimah yang Tinggal di Rumah

Dengan berdiam di rumah, bukan berarti wanita tidak bisa melaksanakan aktifitas ibadah. Banyak ibadah yang bisa dilakukan di rumah seperti shalat, puasa, membaca Al Qur’an, berdizkir, dan ibadah-ibadah lainnya. Bahkan Sebaik-baik shalat bagi wanita adalah di rumahnya. Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ


“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya).

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (HR. Abu Dawud 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Shalat wanita di rumah adalah pengamalan dari perintah Allah agar wanita diam di rumah. Namun demikian, jika wanita ingin melaksanakan shalat berjamaah di masjid selama memperhatikan aturan seperti menutupi aurat dan tidak memakai harum-haruman, maka janganlah dilarang. Dari Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya Abdullah bin ‘Umar berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا

“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia” (HR. Muslim 442).

Bahkan dengan tetap tinggal di rumahnya, wanita bisa mendapatkan pahala yang banyak Aktifitas hariannya di dalam rumah bisa bernilai pahala. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia mengatakan :

جئن النساء إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقلن: يا رسول الله، ذهب الرجال بالفضل والجهاد في سبيل الله تعالى، فما لنا عمل ندرك به عمل المجاهدين في سبيل الله؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قعد -أو كلمة نحوها -منكن في بيتها فإنها تدرك عمل المجاهدين في سبيل الله”.

“Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda : “ Brangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim surat Al Ahzab 33)



Senin, 14 Januari 2013

SABARKAN HATIMU

Hiduplah dengan sabar,
karena hidup tak selamanya berjalan indah,
kadang mampu memberikan suasana pahit dan tangis,
perumpamaan hidup ibarat langit,
kadang cerah dengan mentarinya,
dan kadang berubah mendung dengan datangnya hujan,

itulah hidup,
kuatkanlah keyakinanmu padaNya dengan sabar,
agar mampu menghadirkan ketenangan dalam hatimu
karena setiap kesukaran, pasti datang kemudahan
hiasi hidupmu dengan sabar,
atas ujian-ujian hidup yang Allah berikan
semoga akan menjadi manis dengan sabarkan hatimu..

 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَ الصَّلاَةِ إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِيْن
"Wahai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (ayat 153).

Selasa, 17 Juli 2012

''MARHABAN YAA RAMADHAN''

 Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)
Marhaban… Marhaban… Marhaban Ya Ramadhan…! Kalimat inilah yang akan terucap pada lisan sebagian muslimin serta mukminin di seluruh dunia, karena seiring berjalannya waktu, detik demi detik, hari demi hari, bulan demi bulan hingga tak terasa bulan yang ditunggu-tunggu, bulan yang penuh magfirah (ampunan) bulan yang sangat dirindukan oleh seluruh umat muslim di seluruh dunia yaitu “Bulan Suci Ramadhan” yang tak lama lagi akan tiba.
Oleh karena itu dengan coretan ini mencoba menguraikan tentang bulan suci Ramadhan. sebenarnya hal-hal seperti ini sudah sangat ma’ruf di kalangan kita, namun apa salahnya jikalau kembali diasah melalui dalil-dalil naqli, agar menjelang masuknya bulan suci Ramadhan hati, mental, planning semuanya serba siap memasuki bulan yang penuh Rahmah, Maghfirah, Berkah (Kasih Sayang, Ampunan) dan lain sebagainya… Marhaban Ya Ramadhan.
Sucikan hati, siapkan diri, serta ikhlaskan hati dalam menyambut bulan suci ini. Saya kembali mengingatkan bahwa dalam berpuasa itu dari segi bahasa berarti Al-Imsak ataupun dengan arti menahan, kata yang tergarisbawahi tersebut sangat bermakna dan bermulti arti. Di mana Puasa seseorang individu harus menahan dari makan dan minum, menahan marah, menahan diri untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh sang Khaliq selama di bulan suci Ramadhan bahkan di luar Ramadhan. Jikalau ada individual yang di luar bulan suci Ramadhan hari-harinya penuh dengan maksiat maka memasuki bulan suci berhijrah ke jalan Allah menuju jalan kebahagiaan dunia dan akhirat, dengan demikian kita akan menemukan ketenangan jiwa, raga, ketenteraman, karena tujuan hidup sudah terarah.
Saudara-saudaraku, walaupun kita belum berpuasa namun tulisan ini akan lebih dulu menjumpai orang-orang yang akan berpuasa agar menjadi ma’rifah bagi seluruh umat mukmin. Ketahuilah bahwa dalam berpuasa, hendaknya mensucikan hati dari segala aib, sucikan jiwa dari segala noda, dan bersihkan tubuh dari segala kotoran. Berlepas dirilah kepada Allah dari musuh-musuh-Nya, tuluskan hati dalam mencintai-Nya, berpuasalah dari segala larangan-Nya dalam kesunyian dan terang-terangan, takutlah kepada Allah dengan yang sebenarnya dalam kesunyian dan terang-terangan, serahkan diri kepada Allah pada hari-hari puasa, kosongkan hati untuk-Nya, dan bagilah dirimu untuk-Nya dalam menjalankan perintah-Nya dan berdoalah pada-Nya. Jika telah menjalankan semua itu, maka kita adalah orang yang berpuasa karena-Nya alias Ikhlas karena Allah SWT tak ada niat yang lain. Perlu saudara-saudaraku ketahui bahwa bulan suci Ramadhan merupakan bulan, Allah SWT melipat gandakan amal (Pahala) kebaikan se seorang.
Berbahagialah bagi kaum muslimin yang akan memasuki/menyambut bulan suci Ramadhan yang dikhususkan untuk umat habibullah Muhammad SAW. Sebab di bulan ini seorang individual mukmin mendapatkan waktu yang tepat khusyu’ beribadah Kepada-NYA dibarengi dengan puasa yang ikhlas seperti yang dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW:
Dari Abu Hurairah berkata:
“Barangsiapa yang puasa karena iman dan berharap pahala dan ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu”.

Pada bulan yang paling indah ini yang sangat besar ganjarannya di sisi Allah dan berlimpah; karena itulah hendaknya setiap muslim bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu yang agung ini dan menerimanya dengan taubat yang nusuh (sebenarnya) dan niat yang benar untuk ketaatan, dan keinginan yang kuat, himmah aliyah (semangat yang bergelora) untuk melanjutkan ketaatan hingga akhir Ramadhan; sehingga menjadi orang yang ditulis oleh Allah terbebas dari api neraka, dan perbanyaklah di dalamnya amalan-amalan kebaikan.


Bulan Suci Ramadhan… rasanya rindu akan terobati dengan kehadiran bulan suci Ramadhan yang hanya hadir sekali dalam setahun oleh karena itu kembali al-khatib mengingatkan ”Manfaatkanlah momen Bulan Suci Ramadhan Untuk Beribadah dengan Khusyu” sebab Ramadhan yang akan datang berikutnya belum tentu jasad ini akan menikmatinya. Semua Coretan jari ini merupakan Coretan jari seorang manusia biasa bukan manusia maksum dengan ini ana katakan Wallahu a’lam Bishowab. Syukran…

MAAFKAN HAMBA YA ALLAH,'' HAMBA HOBI BERSELINGKUH

 Sahabat muslim sekalian, jika kita mendengar kata selingkuh maka yang ada di benak kita ialah sebuah perbuatan tercela dan tanda ketidaksetiaan seorang suami atau istri kepada pasangannya. Selingkuh merupakan tanda bahwa sudah tidak adanya lagi rasa saling memiliki dan menyayangi. Mereka yang pernah mengalami pengalaman “diselingkuhi” oleh pasangannya tentunya merasakan betapa dahsyatnya sakit hati yang di terima, betapa remuk redamnya jiwa yang menjadi korban dari tindak tercela tersebut. Namun, pernahkah sahabat sekalian merenungi, ternyata tanpa kita sadari kita sebagai manusia ciptaan Allah ini, tanpa di sadari seringkali melakukan “perselingkuhan” atau menomorduakan Allah dan menciptakan tandingan baru bagi kekuasaannya Allah di antaranya ialah:
1} Sahabat sekalian coba mari kita renungi, adakah di antara kita yang ketika online waktu yang kita sediakan jauh lebih banyak dari pada tilawah Al Quran atau berdzikir kepada Allah? Jika ya, berarti kita telah “berselingkuh” dari sang Maha Pengasih Allah Azza Wa Jalla. Bahkan yang lebih buruk, apakah waktu kita buat buang air besar jauh lebih lama dari pada waktu kita untuk tilawah Al –Quran? Allahu Akbar, ya Rabb ampunilah hambaMu ini yang lebih khusyu saat online di jejaring sosial dari pada saat tilawah Al-Quran dan berdzikir memuja asmaMu.
2} Wahai Allah ampuni hambaMu yang lemah ini, yang lebih suka begadang untuk melihat serunya pertandingan sepak bola daripada berkhalwat denganMu di duapertiga malam, waktu dimana orang-orang shalih bertahajud. Ampuni hamba ya Allah, jika lebih nyaman berada di kasur empuk yang membuat kami terbuai dalam mimpi-mimpi indah nan menipu, daripada sujud di selembar sajadah untuk bermunajat kepadamu meminta ridha dan berkahMu untuk kehidupan kami.
3} Ya Rabb, Hamba mohon ampun jika diri hamba yang hina ini lebih taat kepada manusia yang mempunyai kedudukan daripada taat kepadaMu, ampuni hamba yang lebih cepat menyambut dan segera datang saat direktur hamba memanggil, sedangkan saat suara AdzanMu di lantunkan, hamba memiliki seribu alasan untuk tidak segera menyambut seruanMu dan hamba tidak merasa bersalah sama sekali, ya Rabb betapa penuh noda dan rapuhnya keimanan hamba.
4} Ya Allah hamba mohon ampun, jika hamba selama ini lebih cinta kepada kekasih yang belum halal buat hamba, daripada cinta kepadamu. Maafkan jika hamba lebih sering membayangkan pasangan pujaan hamba daripada membayangkan betapa dahsyatnya neraka dan indahnya syurga.
5} Maafkan hamba ya Allah jika selama ini hamba lebih sering melihat pesan di handphone canggih hamba setiap selesai shalat daripada melihat pesan-pesan hadits Rasulullah, kekasihmu yang agung. Hamba lebih sering menangis karena tidak dapat tiket konser artis luar negeri daripada menangis ketika membaca ayat-ayatMu.
6} Ya Allah, ampuni hamba yang bodoh ini, ketika hamba menjadi merinding saat mendengar seorang kafir bernyanyi dengan merdunya daripada saat mendengar Ayat-ayat Al-Quran dibacakan. Hamba merinding saat mendengar pidato presiden negara adi daya saat dia ada di negara hamba. Sedangkan ketika ulama berkhutbah di Masjid saat Shalat Jum’at Hamba malah tidur dengan nyenyaknya, seolah perkataan khatib yang penuh hikmah itu adalah hal yang membosankan, padahal di dalamnnya terkandung asma dan kalamMu.
7} Ya Rabb, ampuni hamba yang hanya bisa berkata-kata bijak di jejaring sosial tapi di belakang hamba jauh dari bijak, bahkan tidak sama sekali melakukan apa yang hamba tulis itu.
Ya Rabb, ampuni hamba yang tanpa disadari hamba “berselingkuh” dari mu setiap hari dan setiap waktu, ampuni hamba yang merasa diri hamba jauh dari dosa, padahal dosa-dosa itu sudah berkarat di diri hamba, sehingga tidak hamba sadari. Wahai Allah ampuni hambaMu ini setiap hari, dan hamba yakin Engkau Maha Pengampun kepada HambaMu, sesungguhnya rahmatMu lebih luas daripada dosa-dosa hamba.
Semoga tulisan ini bermamfaat untuk ana pribadi khususnya dan untuk antum semua... Amin Ya Rabbal Alamin..

Rabu, 11 Juli 2012

''JANGAN BIARKAN HATI MENGHITAM''


Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?” Allah berfirman, Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, Jadi begitu pula pada hari ini kamu diabaikan.” (QS. Taha: 125-126).
Ayat yang membuat hatiku bergetar hebat…Takut. Hati ini sungguh takut. Yaa Rabb, bagaimanakah nasibku di Hari Akhir nanti? Apakah hamba termasuk ke dalam golongan yang dihinakan, diabaikan oleh-Mu? Dikumpulkan dalam keadaan buta? Betapa mengerikan! Bayangkanlah… Dikumpulkan dalam keadaan buta … Tuhan kita mengabaikan kita, dan kita pun terhalang memperoleh kelezatan memandang wajah Allah! Na’udzubillah…
Di dunia ini kita telah diberikan berbagai kenikmatan yang sangat besar, mata yang dapat melihat, telinga yang dapat mendengar, mulut yang dapat berbicara, dan juga akal yang dapat berpikir. Bayangkan bila detik ini Allah mencabut nikmat mata, nikmat telinga, nikmat mulut, dan nikmat akal dari kita, apa yang dapat kita lakukan?
Maka, sudahkah kita bersyukur? Menggunakan mata, telinga, dan akal untuk mengambil pelajaran?  Merenungkan dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya? Dengan karunia alat indra dan akal dari Allah, adakah kita semakin mendekatkan diri kepada Allah? Atau malah mata, telinga, mulut juga akal kita gunakan untuk bermaksiat? Kita gunakan nikmat Allah dengan menuruti  hawa nafsu, mata yang mengumbar pandangan, mulut yang berdusta, telinga yang mendengar hiburan yang melenakan, hati yang lalai mengingat-Nya, dan akal yang tak mau mengambil pelajaran, mengabaikan ayat-ayat-Nya… Padahal mata, telinga, dan hati kita sungguh akan diminta pertanggungjawabannya…
Di dunia ini ada manusia yang dikatakan oleh Allah telah buta. Bukan, bukan matanya yang buta, tetapi yang buta adalah hatinya.
Sebagaimana dalam firman Allah Swt:
“Sesungguhnya bukan penglihatan ini yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang di dalam dada.” (Q.S al Hajj: 46)
Mengapa mata hati menjadi buta?  Karena dalam hati  tidak ada cahaya. Bukankah kita dapat melihat karena adanya cahaya? Begitu pun mata hati kita butuh cahaya. Cahaya dari Allah, Sang Pemilik cahaya.
“Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, dan tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya dia atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An Nur: 35)
Saya teringat sebuah hadits: “Apabila hamba melakukan dosa, muncul goresan hitam di hatinya. Jika ia melakukan dosa lagi, goresan hitam bertambah. Bila terus begitu, hatinya menjadi hitam.”
Mungkin inilah penyebab butanya mata hati. Hati menjadi hitam karena dosa! Sehingga cahaya ilahi tidak bisa tembus ke dalam hati yang hitam ini!
Rasulullah Saw melanjutkan, “Namun, jika bertobat, hatinya menjadi bersih dan terang.”
Alhamdulillah… Masih ada kesempatan untuk membersihkan hati yang penuh dengan goresan hitam, sehingga hati kita kembali bersih, sehingga cahaya ilahi dapat dengan mudah masuk ke dalam hati ini.
Jangan, jangan biarkan hati kita menghitam, berkarat, dan kemudian membatu. Bahkan menurut Allah, batu pun lebih baik dari hati kita!
“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada air yang mengalir sungai-sungai daripadanya, dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antara sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah… (QS. Al Baqarah: 74)
Tidakkah hati kita seorang mukmin malu ketika membaca ayat ini?  Bahkan batu pun jatuh meluncur karena takut kepada Allah! Adakah hati kita takut kepada Allah? Takut tatkala berbuat maksiat dan dosa? Takut akan azab dan siksa-Nya yang teramat keras?
Rasa takut menuntunku untuk bersegera menghadap Allah, mengambil air wudhu… khusyuk, rukuk dan sujud kepada-Nya, bersimpuh memohon ampunan-Nya…
Duhai Rabb Yang Maha Penerima tobat, Rabb Yang Maha Penyayang, ampuni segala dosa hamba, ampuni hamba yang seringkali lalai… Duhai Rabb Yang Maha Lembut, lembutkan hati hamba, sucikanlah hati ini dari segala goresan hitam akibat dosa,  limpahkan cahaya-Mu ke dalam hati ini, teguhkan hatiku di atas iman, jadikanlah hati ini senantiasa khusyuk mengingat-Mu, hati yang selalu merindukan-Mu, rindu untuk memandang wajah-Mu… Ya Tuhanku, kumpulkan aku kelak bersama orang-orang yang Engkau ridhai, jadikan saat berjumpa dengan-Mu sebagai hari terbaik untukku. Amin.
Wallahu’alam bishshawaab.

Sabtu, 07 Juli 2012

''KIAT-KIAT BERSYUKUR''

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)
Maha Suci Allah yang menciptakan hamparan langit indah membentang, yang padanya burung-burung terbang bebas mengelilingi wujud Kemahabesaran-Nya. Yang padanya menggantung awan-awan yang berbaris menurut kisaran angin, yang ketika telah mencapai waktunya turunlah hujan dari celah-celahnya membasahi bumi yang kering kerontang. Kemudian air hujan itu menyuburkan bumi dengan buah dan sayur mayur.
“Allah yang mencipta langit-langit dan bumi, dan menurunkan air hujan dari langit lalu mengeluarkan dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu perahu sehingga berjalan di atas lautan dengan perintah-Nya, dan Dia menundukkan sungai-sungai bagimu. Dan Dia menundukkan bagimu matahari dan bulan yang tidak henti-hentinya (beredar), dan Dia menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia memberikan kepadamu semua yang kamu minta. Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu adalah makhluk yang banyak berbuat zhalim dan banyak mengkufuri (nikmat).” (QS. Ibrahim: 32-34)
Segala Puji bagi-Nya yang membuat kita masih mampu bernafas, masih bisa melihat, masih lapang ketika sempit, masih mampu bersabar, masih….dan masih…..
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13)
Semua itu karena Allah amat mencintai hamba-hamba-Nya. Karena kasih sayang-Nya lah kita masih diberi amanah untuk tetap menatap dunia. Kita masih dipercaya untuk memperbaiki segala kerusakan yang kita lakukan. Kita masih diberi tenggang waktu untuk bisa terus maju menegakkan yang hak dan menjauhi yang batil.
“Sesungguhnya, diri kitalah kesaksian utama bagi-Nya. Tetapi seperti halnya kelelawar hanya bisa melihat pada malam hari dan tidak di siang hari karena kelemahan penglihatannya, yang dibutakan oleh benderangnya sinar matahari. Begitu pula pikiran manusia terlalu lemah untuk melihat keagungan penuh Kebesaran Ilahi.” (Imam Al-Ghazzali)
Karena kita manusia yang selalu khilaf, selalu lupa bersyukur ketika sedang makmur. Maka marilah kita meneladani Nabi Sulaiman yang selalu berdoa agar bisa mensyukuri nikmat Allah. Yang terabadikan dalam Al-Qur’an;
“Wahai Rabb-ku, tunjukkanlah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku. Dan (tunjukkanlah aku) untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (QS. An-Naml: 19)
Hal itu pula senada dengan apa yang pernah di wasiatkan Nabi Muhammad SAW kepada Mu’adz agar memohon pertolongan kepada Allah untuk mensyukuri nikmat-Nya;
“Wahai Mu’adz, demi Allah aku mencintaimu. Kemudian aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’adz, janganlah kamu tinggalkan di akhir setiap shalat, kamu ucapkan (doa yang artinya) wahai Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadah kepada-Mu.” (Riwayat Abu Daud dan an-Nasa’i dengan sanad yang Shahih)
Oleh karenanya, marilah kita biasakan diri untuk mensyukuri segala apa yang telah kita capai. Karena semua itu merupakan salah satu tanda orang beriman.
Wallahu a’lam.....''

Selasa, 26 Juni 2012

BELAJAR DENGAN HATI''KETIKA HATI SEDANG GALAU


                                  بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
ASSALAMAU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABAROKATUH
Sepotong hati memang acap kali terbolak-balikan, seperti me-ji-ku-hi-bi-ni-u dalam pancaran pelangi. Susah, senang, bahagia, sedih, kasih, sayang, cemburu, cinta dan yang saat ini populer adalah GALAU.
Galau, sebuah kata sifat yang banyak menghiasi tampilan status jejaring sosial, desiran kata, dan tentunya sering menyelimuti atmosfir suasana hati seseorang. Bukan hanya dirasakan oleh para ABG saja, orang yang sudah lanjut pun ikut merasakannya. Rasanya asam, kecut manis pahit berbaur jadi satu.
Galau, sebuah suasana hati yang meresahkan, membuat sang hati tak tenang dan tak jarang sangat berpengaruh pada perilaku seseorang. Yang biasa riang jadi garang, yang biasanya semangat jadi terasa penat, yang biasanya aktif jadi pasif, yang biasanya suka jadi duka, yang biasanya gembira jadi bencana, yang biasanya syukur jadi kufur, yang biasanya cinta jadi menderita…
Ah… galau. Ada apa denganmu? Saat ku butuhkan bara api semangat, malah kau padamkan dengan mengajak hatiku pada suasanamu… Bilakah kau tahu, seandainya aku tanpa dirimu…
Bagaimanapun, seorang manusia dewasa. Manusia yang semakin spesifik akan setiap permohonan dalam untaian doanya, bukan hanya memandang hanya apa yang diinginkan hatinya, kadang juga berfikir apakah itu semua pantas untuk ia sandang, apakah pantas untuk ia dapatkan, dan apakah benar – benar sejatinya pantas untuk dirinya. Manusia dewasa yang telah diberikan kemampuan untuk mengelola suasana hatinya, mengendalikan sebuah warna yang akan menyinari warna hatinya. Apakah hanya akan berlama – lama untuk mempertahankan warna hijau? Mempercepat datangnya warna merah? Menghilangkan warna kuning? Atau konsisten untuk seberkas warna merah jambu? Ataukah putih? Ya, seseorang yang dewasa dialah sang ahli dalam memanage hati. Menjadikan proporsinya pas untuk dikonsumsi oleh suasana ruhiyahnya, bahkan untuk kondisi fisiknya.
Ketika problematika datang bertubi – tubi, kesedihan menghampiri, gelisah yang menggelayuti, iri melihat sana – sini.  Bilakah galau melanda, menyusup perlahan ataupun dengan cepatnya membalikkan hati yang tenang, menjadikannya resah gelisah dan tak tahu harus bagaimana lagi. Terdapatlah 8 penawar yang insya Allah akan membalikkan hati kita menjadi hati yang bersuasana ideal, tenteram dan nyaman
1. Dzikrullah (mengingat kepada Allah)
“(Yaitu) orang – orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
2. Membaca Al-Qur’an
Sebuah kapal selam akan tetap bertahan di dalam air dengan tanpa masalah sedikit pun, walau di permukaan bumi terjadi berbagai guncangan keadaan dia tetap bertahan, berjalan dengan pasti tak ada pengaruh bisikan sana – sini, yang ada dia hanya bersikukuh untuk meneruskan perjalanannya sembari menikmati indahnya aneka makhluk di dasar laut.
Rasakanlah tenteramnya saat membaca ayat suci yang memang original buatan Yang Maha Pemilik Hati, sekalipun kita tak mengerti terjemahan dalam bahasa Indonesianya, tapi adalah perasaan yang berbeda dibandingkan dengan membaca buku – buku biasa, terlebih jika kita telah mengetahui arti dari ayat – ayat yang telah kita baca, subhanallah. Ya, karena Al – Qur’an memang istimewa.
3. Menjauhi maksiat
Bagaimana caranya hati kita menjadi tenteram, sementara hati kecil kita terus menolak akan kebenaran palsu (maksiat) yang kita lakukan? Segera tinggalkan, seburuk – buruknya hati pasti akan merasa tak nyaman jika kita melakukan kesalahan. Karena, sejatinya fitrah hati adalah suci. Dan ini tentang bagaimana orang yang diamanahi hati untuk tetap menjaga kesuciannya. Apakah akan tetap terjaga dalam kesuciannya, ataukah merelakannya untuk ditutupi oleh kebenaran palsu dan keindahan yang semu.
4. Menjauhi ketergantungan pada makhluk
Apa yang membuatmu ragu untuk melakukannya dengan tegaknya pijakanmu sendiri? Kita sama, kita bisa. Coba dulu deh & rasakan sensasinya. Optimis.
5. Perbanyak ibadah
Sibukkan diri dengan ibadah, karena segala sesuatu yang kita lakukan, memang surga adalah obsesinya. Bagaimana caranya untuk meraih surga?
6. Yakin dengan pertolongan Allah.
Bukankah Allah itu dekat? Allah akan sesuai prasangka hambaNya.
7. Memperhatikan bukti kekuasaan Allah
Lihat sekeliling kita, betapa mentari dengan cerahnya menyambut kita, betapa malam yang selalu setia menina bobo kan kita dalam ketenangannya. Lihatlah betapa ilmu terbentang luas, dan apakan sedikit pun telah kita genggam dengan penguasaan? Rasakan setiap apa kita hirup, sebuah proses yang terus berulang tanpa ada keluh kesah karena segalanya telah berjalan pada koridor kebenaran yang tepat
8. Bersyukur
Dan Allah akan memberi balasan dan menambah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Qur’an: Surat Ali Imran: 144.
Coba membiasakan diri mencatat, setiap hari, semua hal baik yang terjadi pada kita hari itu. (Keep a gratitude journal). Sudahkah kita mensyukuri apa yang kita dapatkan? Apa yang kita rasakan? Apa yang kita peroleh? Sudahkah?
Wallahua’lam…

Minggu, 24 Juni 2012

~~~SURAT SEORANG SAHABAT~~~

 Bismillaahirrohmaanirrohiim…
Sahabat fillah, percayalah…
Kebahagiaan seorang sahabat sejati bukan terletak pada ucapan terima kasih kita. Bukan juga terletak pada hadiah yang kita berikan padanya.
Kebahagiaan seorang sahabat sejati terletak pada keberhasilan kita dalam mencapai potensi terbaik!
Karena kita selalu memperhatikan dengan sungguh-sungguh atas pesan-pesan yang ia sampaikan. Dan menyikapinya dengan benar dalam setiap langkah hidup kita.
Sahabat terbaik adalah yang datang dengan nasihat-nasihat kehidupan yang dengannya engkau mengerti arti hidup dan kehidupan ini.
Ia tak mengharapkan sesuatu darimu selain engkau menjadi orang yang baik dan mampu memberi kebaikan kepada orang lain.
Ia hanya ingin melihat senyum dari wajahmu saat engkau menghadap Rabbmu…
Ia tak ingin ada kegelisahan dan kesedihan karena dunia tersirat di wajahmu.
Tapi, ia mengharapkan kesedihan dan kegelisahanmu dikarenakan ketakutanmu kepada ALLAH!
Sahabatmu bukanlah orang yang takut jika engkau terasing pada kehidupan dunia.
Namun, ia hanya takut, jika pada hari kebangkitan nanti, engkau termasuk orang-orang yang terusir dari rahmatNya!
Ia tak takut jika harus berpisah denganmu pada kehidupan dunia.
Namun, yang ia takutkan adalah ketika ia harus dipisahkan denganmu pada kehidupan setelah kehidupan yang fana ini… yaitu kehidupan akhirat, tanpa bias menolongmu sedikit pun.
Karena ia pun tak tahu dimana akhir dari perjalanan hidupnya, apakah di surga yang diliputi dengan segala kesenangan? Ataukah di neraka yang tak mengenal cinta, kasih sayang, dan persahabatan???
Sahabat fillah…
Selamat berjuang mengarungi samudra kehidupan dunia.
Semoga Allah senantiasa menjaga kita.
Semoga selalu ada cinta di hati kita.
Cinta karena Rabbuna.
Sehingga timbul kejujuran dalam mencintai Allah dan hamba-hambaNya.
Wallahua’lam.

Jumat, 22 Juni 2012

UKHUWAH ITU TAK PERNAH PUNYA DUSTA

Ia berbisik dengan bahasa yang tak direka-reka
Ucapan matamu bahkan mampu berbicara dengan 1000 ungkapan sarat makna
Ukhuwah tak butuh retorika
Modal ukhuwah adalah genderang iman yang menyala
Iman yang menghujam dalam dada
Ukhuwah berkelebat indah bersama rona keikhlasan
Aha, ana menukil nasihat Rasulullah SAW
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, melakukan najasy (semacam promosi palsu), saling membenci, memusuhi, atau menjual barang yang sudah dijual ke orang lain. Tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak menzhalimi, dan tidak membiarkan atau menghinakannya. Takwa itu di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali).”
Lalu apakah dengan diam lebih kita sukai daripada mengingatkan saudara kita ke jalan kebenaran?
Relakah kita membiarkan diri kita terjerembab fatamorgana kenaifan?
Padahal diri kita adalah diri saudara kita. Diri mereka adalah diri kita
Apa yang mereka rasakan harus kita rasakan pun sebaliknya
Atau justru “benteng” itu terlampau tinggi untuk kita naiki
Pengorbanan kerap lebih sulit untuk kita daki
Padahal kita adalah mereka, mereka adalah kita
“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR. Muslim)
Patutkah kita menunggu hingga semua berlalu?
Dan semua akan berlari bagai angin lalu?
Ana yakin, Tidak…
Semua pasti merasai kerinduan akan “ruangan” itu
Ruangan tanpa sekat keangkuhan
Ruangan ukhuwah yang indah

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang adalah ibarat satu tubuh; apabila satu organnya merasa sakit, maka seluruh tubuh akan sulit tidur dan merasa demam.” (HR. Muslim)

Selasa, 19 Juni 2012

KETIKA AKU INGIN MENIKAH


Wahai Rabb semesta alam,
Ku ingin menikah atas perintahMu,
Sungguh ku sangat khawatir tak mampu menjalankan perintahMu
Tak berpijak nafsu atau kepentinganku, tapi tuk harap ridhaMu
Wahai Maha Penggerak hati,
Izinkanlah hati ini tunduk dalam biduk cinta keshalihan
Terpatri ikrar Ilahiyah dan tauhid
Jangan kau biarkan hatiku keras membatu karena nafsu
Terombang ambing atas cinta, harapan fana nan semu
Kini hatiku gelisah tak menentu ya Rabb
Air mata seolah tak terbendung karena khawatir akan fitnah
Takut akan kehancuran pribadiku karena godaan setan mengusik sepanjang waktu
Iman ini mulai rapuh dan ragu pada janjiMu
Ku sadari ya Rabb, saat ini pernikahan adalah ujian terbesarku
Orientasi dan kecintaan pada diriMu kini kau uji
Kau suguhkan harta, tahta, dan paras menarik semata
Ya Rabb lindungi dan mampukan diriku, untuk lolos ujianMu
Jangan gagalkan aku memperoleh ridhaMu ya Rabb
Kusadari begitu banyak pejuang yang gagal dalam ujian ini
Terbelenggu oleh duniawi dan kebahagiaan sesaat
Terjebak oleh nafsu dan romantika keruh
Melepaskan perjuangan hingga hilang hanyut dalam kenistaan cinta yang fana
Banyak cinta yang datang menghampiri dan aku resah ya Rabb
Ketika itu tak lahir dari syariatMu
Bukan dalam kerangka iman dan Islam
Bukan untukMu tapi hanya untukku
Ya Rabb, hanya padaMu aku berkesah
Karena hanya padaMu aku berlindung dan memohon
Tunjukilah jalan yang lurus dan benar ya Rabb
Jalan yang kau ridhai bukan jalan yang kau celakakan
Mampukan aku memenuhi perintahMu untuk menikah
Hindarkan dari kehancuran dan kehinaan
Kokohkan niat untuk melangkah dalam kesucian
Luluskan dalam menghadapi ujianMu…
Demi Allah aku menikah…
Laa illaha illallah Muhammadarrasulullah…

Jumat, 15 Juni 2012

MAAF''KECANTIKANMU MUSIBAH BAGIKU

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Ukhti, saudariku,
kau cantik, ku akui itu
karena memang kau terlahir untuk itu
walau relatif kecantikanmu
tergantung hak individu
Ku tahu kecantikanmu anugerah
dari Rabbiku dan Rabbimu tapi, bukankah Rabbiku dan Rabbimu punya aturan untuk itu
Kau harus menjaganya
dari mata lelaki jalang
yang belum halal
baginya dan bagimu
Tahukah kau itu
atau kau sama sekali tak tau
atau pura-pura tak tau
atau tak mau tau soal itu
Rabbiku dan Rabbimu memberi instruksi untukmu
ulurkan kain ke seluruh tubuhmu
biar kau tak diganggu
Rabbiku dan Rabbimu juga ada instruksi untukmu
jangan nampakkan perhiasanmu
panjangkanlah kain itu ke dadamu
Rabbiku dan Rabbimu menambah instruksi untukmu dan untukku
tundukkan pandanganmu
agar hati kita tak berdebu
Namun, kenapa kau
tak gubris instruksi itu
dengan kau
umbar auratmu
kau hiasi aurat itu
agar mata lelaki terayu
mengakui cantikmu
indah bentuk tubuhmu
bagaimana aku menjaga nafsu
kalau kau umbar aurat selalu
aku sama sekali tak menyalahkanmu
karena ini lemahku
di depan sang nafsu
Tapi, mungkin lebih mudahku
membendung sang nafsu
kalau kau membantu
dengan menutup auratmu
karena ku bukan malaikat
bukan juga iblis terlaknat
imanku bisa melesat mendarat
bisa juga melusut melarat
hari ini, ku menjadi tuan nafsu
namun besok, mungkin nafsu memperbudakku
ku takut lirikan itu
menambah saldo dosa- dosaku
semoga kau menyadari itu
wahai ukhti saudariku
demi kebaikanku dan kebaikanmu
demi hatiku dan hatimu yang berdebu
karena noda- noda pandangan itu..''

Senin, 11 Juni 2012

TEMUKAN AKU DALAM ISTIKHARAHMU


Jodohku
Sabar dan tenanglah
Aku di sini masih bersabar menantimu
Hatimu tak sedang terluka kan?
Tersenyumlah
Karena aku yakin kebahagiaan akan slalu menyertai kita
Jikalau detik ini hatimu sedang terluka, basuhlah wajahmu dengan air
Dan mendekatlah kepada-Nya,
Tapi di sini aku berharap kau baik-baik saja
Waktu terasa lama buatku,
Tapi aku yakin takkan lama lagi kau akan hadir menyapaku
Mengajakku untuk melakukan shalat fardhu
Sering pula kau akan menanyakan
Sudah shalatkah kau?
Jodohku
Aku rindu
Kapan kita bertemu?
Begitu banyak hal yang ingin ku ceritakan kepadamu
Begitu banyak pula harapanku untuk menantikan nasihat-nasihatmu
Hati ini kosong dan tak sabar menanti kehadiranmu
Semoga engkau kan membalut & menyembuhkan luka di hatiku
Temukan aku dalam istikharahmu..''

SAAT ITU AKAN TIBA...!!!!


Sejenak lupakan tawa itu. Tinggalkan dulu segala urusan duniawimu. Luangkan waktu ‘tuk sekedar mengingat, bermuhasabah akan sesuatu yang pasti menghampiri diri.
Saat itu akan tiba, sahabat!
Saat dimana wajahmu terlihat pucat pasi. Tubuhmu kaku tak bergerak. Gelar hanya tinggal sejarah. Segala prestasi dan pencapaian yang didapat tak ada yang peduli. Bukankah hanya amal yang setia mengikuti?
Saat itu kau sendiri, mempertanggungjawabkan skenario hidup yang kau pilih. Baik buruk diperhitungkan di pengadilan dengan keadilan tertinggi. Mungkin ada banyak penyesalan akan waktu dunia yang terlewati sia-sia. Mungkin juga akan ada kelegaan atas kesadaran beribadah.
Atau saat yang lain akan tiba, sahabat!
Saat dimana kabar itu menghampirimu. (Siapapun) yang tersayang meninggalkanmu untuk selamanya. Tak akan ada lagi dialog yang terangkai panjang, tak bisa lagi canda tawa menggurat indah. Kau sendiri, melihat tubuh yang tersayang terbujur kaku.
Saat itu, hilanglah kesempatan ‘tuk mewujudkan niat baik membahagiakan. Hilang pula sosok yang paling menyayangi dan mengerti dirimu. Mungkin terlalu banyak penyesalan dalam keterlupaan dan kedurhakaan. Mungkin juga masih ada kelegaan atas doa yang pernah terpanjatkan.
Maka yang manapun, sebelum kepastian saat itu tiba, masih ada waktu yang diberikanNya. Jika sekarang kita terlalu lena dalam setumpuk aktivitas keduniaan, maka rehatlah, berikan sedikit waktu bagi diri ‘tuk mengingat yang kekal di sana. Apa yang sudah dilakukan? Sudah siapkah jika ‘tamu’ itu tiba-tiba menjemput diri? Atau sanggupkah diri jika ‘tamu’ itu menghampiri orang yang tersayang?
Tak ada yang bisa menjamin batas hidup seseorang. Mungkin besok atau sekarang, saat diri sedang bergelimang prestasi, saat orang-orang banyak yang mengagumi, atau saat dunia kau rasa telah diraih, saat itu pula Dia memanggilmu. Dan saat itu, hanya predikat khusnul khatimah yang bisa menjamin hidup setelah meninggalmu.